Ia tidak mungkin kembali ke atap, karena ia sudah turun sejak tadi. Aku berusaha mengingat kata-kata Suster McClain. Taman. Bagian anak-anak. Aku berada di dekat lift, jadi aku memutuskan untuk pergi ke bagian anak-anak di lantai tiga. Aku sangat berharap Maggie ada di sana.
Syukurlah lift yang kunaiki tidak penuh, jadi aku sampai ke lantai tiga dengan cepat. Bagian anak-anak pun cukup luas, karena terdiri dari beberapa bagian. Aku menarik napas panjang. Tekadku untuk bertemu Maggie lebih besar daripada rasa lelahku sekarang.
Aku sedang mengamati bagian pemeriksaan anak-anak ketika melihat sosok gadis tadi pagi.
Di sanalah Maggie, dengan rambut yang terikat berbentuk buntut kuda, sambil tersenyum dikelilingi anak-anak kecil. Ia tampak begitu bahagia, terpancar dari sinar matanya. Baru kali ini aku melihat seseorang yang sakit, namun terlihat begitu bahagia. Begitulah yang kulihat dari Maggie.
Tanpa sengaja, tatapan kami pun bertemu.
Ia tampak terkejut ketika melihatku, yang kulakukan malah memalingkan wajah dan merasa malu. Wajahku memanas, entah mengapa.
Maggie berbicara sejenak dengan teman-teman kecilnya, lalu berdiri menghampiriku.
“Kau cowok tadi pagi,” kalimat pertama yang ia ucapkan saat bertemu lagi denganku.
“Apa yang kau lakukan di sini?”
Aku memandang Maggie tanpa bisa berkata-kata. Alis matanya terangkat sebelah, begitu heran melihatku muncul di depannya. Poni sampingnya jatuh tepat di samping ekor matanya.
“Aku—hanya—“
Ditatap dengan mata emerald-nya membuatku merasa luluh.
“Aku hanya ingin bertemu denganmu,” kataku dengan bebasnya.
Wajahku pasti merah padam sekarang, karena Maggie menatapku heran, tak percaya. Kemudian, hal berikutnya yang ia lakukan adalah tertawa. Tertawa! Seolah pengakuanku itu lelucon atau apa.
“Well, sekarang kau bertemu denganku,” ucapnya di sela-sela tawanya.
Entah kenapa aku begitu ingin bertemu dengan gadis ini, padahal dia senang sekali mengerjaiku. Tapi ada sesuatu padanya yang membuatku ingin lebih mengenalnya.
Gadis itu lalu memandangku setelah berhenti tertawa. Ia berdeham. “Baiklah, bisa tunggu aku sebentar? Aku akan berpamitan dengan anak-anak dulu.”
Aku mengangguk, ia pun tersenyum padaku.
Maggie kembali masuk ke kerumunan anak-anak, lalu berbicara pada mereka. Anak-anak itu sepertinya sangat mengenalnya. Mereka melihatku dari balik kaca, lalu kembali melihat Maggie. Sepertinya ia memberitahu anak-anak itu tentang aku, yang mereka balas dengan tatapan datar ke arahku.
Ia melambaikan tangan pada mereka semua, lalu keluar menghampiriku.
“Maaf—mereka kurang begitu ingin aku pergi secepat ini,” katanya.
“Apakah aku mengganggu kalian?” tanyaku, merasa sedikit bersalah karena datang tiba-tiba.
“Tidak—tentu tidak,” sergah Maggie. “Aku memang akan keluar cepat atau lambat. Paling tidak aku sudah berpamitan.”
Aku lalu mengajaknya berkeliling dan Maggie setuju. Saat akan meninggalkan ruangan anak-anak, seorang gadis cilik muncul dari balik pintu.
“Apa dia pacarmu, Maggie?” tanya gadis cilik itu polos.
Maggie terkejut, lalu mendekati gadis kecil itu. Ia membisikkan sesuatu pada gadis itu yang berusaha kudengar, namun tak bisa.
Gadis cilik itu terkekeh, lalu berlari masuk ke dalam ruangan.
Maggie tersenyum sambil mengangkat bahu.
Kami berjalan beriringan entah ke mana. Aku merasa sedikit canggung, ingin mengajaknya bicara, namun tak ada satu katapun yang terpikirkan dalam pikiranku.
“Jadi.” Maggie memulai. “Kulihat kau sudah bisa keluar dari rumah sakit.”
Awalnya aku tidak menangkap apa yang ia katakan, aku baru sadar setelah Maggie memandang kemeja bergarisku, dan jeans Levi’s-ku.
“Ehm—yah—orangtuaku memang terlalu melebih-lebihkan,” kataku gugup.
“Syukurlah. Tidak ada orang waras yang mau tinggal di sini—mm—“
“Mike.”
“Mike,” ulangnya. “Mike? Rasanya kau sangat familier.”
Aku mendesah. Tentu saja aku sangat familier jika berhasil masuk sampul majalah Times. Atau diwawancarai oleh Jay Leno.
“Michael Frost?” katanya dengan nada tinggi?
Aku mengangguk lemah.
Maggie tampak tak percaya. “Ya ampun, ternyata kau itu dia. Kalau kau memang benar-benar bunuh diri, kau pasti akan jadi sampul depan semua berita.”
Kalau saja aku bisa bunuh diri. Mengingat dia sendiri yang mengatakan padaku untuk mencari alasan yang lebih bagus lagi untuk bunuh diri.
“Kau sendiri,” Aku berusaha mengubah topic dari aku menjadi dia. “Kenapa kau ada di sini?”
Maggie memandangku sejenak, lalu memalingkan wajah.
“Well—ceritanya panjang,” ucapnya pelan.
“Aku punya banyak waktu.” Aku lebih suka di sini mendengarkan cerita gadis ini daripada kembali dan bertemu Vena.
Maggie berdeham.
“Yah, aku berada di sini karena aku sakit. Sejak kecil jantungku lemah, aku sering keluar masuk rumah sakit. Dan sekarang, setelah orangtuaku meninggal, aku tinggal di sini.”
“Kau tinggal di sini?” Nada suara jelas terdengar seperti orang bingung.
Maggie mengangguk.
“Aku memberhentikan semua pelayanku, lalu menutup semua perabotnya. Rumah terasa begitu sepi setelah mereka tiada. Lebih baik aku tinggal di sini, di mana semua orang mengenalku dan aku tidak kesepian,” jelasnya pelan.
Aku tak menyangka hidup seseorang bisa begitu tragis. Saat ia kehilangan orangtuanya, ia pasti merasa hidupnya begitu sepi. Tidak heran jika seluruh pekerja rumah sakit mengenalnya.
“Kau mau lihat kamarku?” Maggie menatapku dengan mata bulatnya yang bagai emerald berkilat-kilat.
“Tentu,” pintaku.
Dengan senang hati ia menunjukkan kamarnya yang ada di lantai lima. Ketika memasuki kamarnya, wangi bunga-bunga segar semerbak dalam kamarnya. Kamar Maggie sama seperti kamar pasien lainnya, hanya saja dalam kamarnya lebih banyak barang pribadi. Buku-buku tebal tersusun rapi di rak kayu kecil di samping jendela. Di meja samping tempat tidurnya ada kaca kecil, lalu pita-pita rambut, dan kotak obat.
“Mereka tidak membolehkanku memiliki DVD player. Hanya ada PSP saja. Dan ponsel, tentu saja. Yang kupikir tak benar-benar kubutuhkan.” Maggie mendesah.
“Kenapa?”
“Karena tak ada seorangpun yang menghubungiku—atau kuhubungi,” katanya. “Aku punya semua disini. Teman-temanku juga semua ada di sini. Aku rasa aku tak butuh ponsel.”
Aku terdiam.
“Kau tak punya teman di luar?”
Maggie menggeleng.
“Well,” desahnya. “Aku bersekolah di rumah. Pernah satu waktu aku ingin sekali bersekolah di sekolah umum. Jadi sambil menangis aku meminta ayah dan ibuku untuk mendaftarkan aku ke salah satu sekolah umum—dan mereka dengan setengah hati mengizinkan. Aku berhasil melewati hari pertamaku dengan baik, namun hari berikutnya, aku pingsan saat akan makan siang. Sejak saat itu aku kembali ke rumah.
“Aku tak punya banyak teman. Teman baik pertamaku seorang perawat yang merawatku dari kecil. Hanya saja sekarang ia sudah menikah dengan perempuan Monaco. Mereka tinggal di sana.”
“Perawatmu dulu laki-laki?”
“Aku tidak tahu kapan penyakitku kambuh dan pingsan, maka kedua orangtuaku mencari perawat laki-laki yang bisa menjagaku juga selalu siap jika terjadi sesuatu padaku,” jelasnya sambil meminum air yang telah tersedia di samping bangsalnya.
Bisa kulihat wajah Maggie berubah sedih saat membicarakan perawatnya dulu. Mungkinkah gadis itu merasa kehilangan?