Saturday, December 25, 2010

When Love Actually is You; Maggie's PoV part 1


CERITA MAGGIE
            Sejak Mike mengajakku pergi, ia menjadi sering sekali datang mengunjungiku. Entah angin apa yang selalu membawanya kemari. Bukan berarti aku tak suka padanya, hanya saja aku tak pernah mendapat perhatian seperti ini dari orang lain—kecuali orang-orang rumah sakit, tentu saja. Dan yang lebih membuatku merasa aneh adalah, Mike sering sekali menatapku. Seolah-olah aku ini sesuatu yang harus dijaga.
Aku sangat mengenal tatapan seperti itu.
Sama seperti saat Nathan menjadi perawatku. Ia selalu memperhatikan aku dengan tatapan menjaga, yang membuatku gugup. Mungkin bisa dibilang Nathan adalah cinta pertamaku. Dia laki-laki pertama yang kukenal, yang melakukan kontak langsung dengan kulitku pertama kalinya. Laki-laki pertama yang menjaga, melindungi, dan menyayangiku apa adanya. Jangan salah, Nathan sangat tampan. Bahkan para pelayan wanita di rumah sangat memujanya.
Sebagai perawat, Nathan sangat tampan dan cekatan. Tubuhnya tinggi dan besar—bisa kurasakan otot-otot tubuhnya saat ia menggendongku karena sakit dan hamper pingsan. Ia selalu mengurusiku, mulai dari minum obat sampai aku pergi tidur. Dan biasanya sebelum keluar kamar, Nathan akan mengucapkan selamat malam sambil mengelus kepalaku. Aku suka saat ia melakukannya. Saat itu kupikir ia akan terus bersamaku.
Semua berubah ketika ia datang dan mengatakan kalau dia akan menikah. Ia muncul di hadapan Dad, Mom, juga aku ketika ia bilang ingin berhenti untuk menikah. Aku yang tak percaya bahwa ia akan meninggalkan aku, lari ke kamar dan tak ingin melihatnya lagi. Aku begitu marah, sampai-sampai saat ia akan berpamitan padaku, aku tidak mau bertemu dengannya. Mom yang mengatakan padaku bahwa aku tak boleh menyalahkan dia. Nathan seorang pria dewasa, ia menginginkan sebuah keluarga miliknya sendiri.
Namun aku justru menangis dan berkata bahwa aku menyayanginya dan ingin bersamanya.
Mom memelukku dan berkata dengan sangat dewasa.
            “Aku tahu itu, Sayang. Ia juga sangat sayang padamu, yakinlah itu. Meskipun ia menikah, bukan berarti ia tidak sayang padamu. Kau akan belajar mencintai seseorang ketika waktunya tepat. Nathan tidak akan lupa begitu saja mengenai semua kebaikanmu. Jadi kau harus kuat. Antarkan dia pergi dengan senyuman. Beritahu dia bahwa kau akan baik-baik saja. Dengan begitu, ia tidak akan pergi dengan penyesalan.”
Jadi itulah yang kulakukan.
Sebelum pergi, Nathan memelukku lembut. Saat itulah aku bisa tahu apa yang Mom bilang memang benar. Dalam pelukannya, kurasakan rasa sayangnya yang ia tumpahkan terakhir kali padaku, sebelum pergi jauh selamanya. Setelah itu aku bisa melepas kepergiannya. Begitulah cerita cinta pertamaku.

Tuesday, December 21, 2010

When Love Actually is You ch. 7


Red mango tak jauh dari rumah sakit, jadi aku mengajak Maggie ke sana. Frozen yoghurt menjadi hit belakangan ini, banyak orang—terutama remaja menyukainya.
Aku menyuruh Maggie duduk di salah satu tempat, lalu memesan dua frozen yoghurt.
            “Yoghurt dingin dengan topping buah jauh lebih menyehatkan daripada es krim,” kataku sambil mengulurkan frozen yoghurt dengan topping strawberry, choco chips, dan peach untuk Maggie.
Aku duduk di hadapannya, dengan frozen yoghurt ber-topping anggur, leci, sereal dan almond.
            “Rasanya memang sedikit asam, tapi enak.”
Maggie mengambil sendok lalu mencicipinya. Wajahnya menjadi lucu saat merasakan asamnya.
            “Asam! Tapi segar sekali,” katanya, sambil menyuap kembali yoghurt-nya.
Senang sekali melihatnya menikmati yoghurt-nya, aku pun memakan milikku.
            “Mike, kenapa kau begitu baik padaku?” celetuk Maggie disela ia memakan frozen yoghurt-nya.
            “Mm—jujur saja, aku tidak tahu,” jawabku enteng.
            “Apa?”
Aku menarik napas panjang sambil berpikir.
            “Yah, seperti yang sudah kubilang, anggap saja ini balas budiku karena kau telah mencegahku bertindak bodoh?”
Maggie tertawa kecil. “Sungguh, aku tak bermaksud mencegahmu saat itu”
            “Oh ya?” Aku terkejut mendengar pernyataan Maggie.
Ia mengangguk. “Aku hanya bilang supaya kau bisa lebih menghargai nyawamu. Tidak banyak orang yang bersyukur atas hidupnya dan itu membuatku kesal. Orang sehat dan mampu sepertimu seharusnya melakukan yang terbaik untuk hidup.”
Aku terdiam.
Maggie berkata apa adanya. Mengingat ia sakit sejak kecil dan harus selalu berobat, ia sudah menderita cukup lama.
Aku menyuap yoghurt-ku lemah.
            “Aku ini, selama ini tak pernah dianggap sukses oleh orangtuaku sendiri. Aku ingin melakukan banyak hal sesuai yang aku inginkan, namun orangtuaku selalu saja menginginkan yang lain. Aku ingin menjadi teknisi, menciptakan sesuatu untuk masa depan, bukannya berpesta pora di kalangan jetset seperti mereka,” kataku pelan.
Maggie memperhatikan aku yang sedang mengaduk-aduk  frozen yoghurt-ku.
            “Kau—maupun semua orang juga tahu kalau keluargaku berasal dari kalangan sosialita. Mereka ingin aku juga menjadi seperti mereka. Hanya saja, aku merasa tidak cocok. Aku tak suka berada dalam keramaian, harus berbincang-bincang mengenai hal-hal yang tak kusukai—itu sama sekali bukan gayaku. Sebenarnya sudah lama aku punya apartemen pribadi, tetapi sampai sekarang belum juga kutinggali karena ibuku selalu memintaku tinggal di rumah.”
            “Kalau begitu kenapa tidak kau buktikan saja pada mereka?”
Aku menoleh, menatap gadis mungil ini heran.
            “Buktikan pada mereka, kau bisa melakukan hal yang kau mau. Aku tidak memintamu untuk melawan mereka. Lakukan apa yang bisa kau lakukan, dan saat orang lain mengakui kemampuanmu, aku rasa mereka akan tahu kau yang sebenarnya,” kata Maggie.
Kata-kata Maggie ada benarnya. Aku memang sudah lama ingin melakukannya, tapi karena tak ada seorang pun yang mendukungku, aku kurang keberanian untuk melakukannya. Sekarang Maggie mendukungku, membuat tekadku semakin kuat.
            “Kau pasti bisa, Mike.”
Maggie tersenyum padaku, lalu melanjutkan menghabiskan yoghurt-nya—yang omong-omong, milikku sudah hamper mencair semua.
Kami berjalan keluar dari Red Mango lalu berjalan-jalan melewati taman.
Maggie menikmati setiap saat kami berjalan-jalan, aku memperhatikannya setiap detik. Aku sadar bahwa gadis ini memang berbeda. Meski ia sakit dan tak tahu apakah bisa sembuh, namun Maggie selalu bersemangat dan ceria. Bagaikan matahari yang bersinar cerah hari ini.
Kami berkeliling sampai lupa waktu bahwa sekarang hamper petang. Maggie yang tahu bahwa ia harus kembali ke rumah sakit pun, berjalan pulang dengan ceria.
Aku mengantarnya sampai ke depan lobby, di mana Dokter Carson dan Sandra telah menunggunya. Mereka tersenyum saat Maggie melambai. Aku telah menepati janjiku.
            “Baiklah, aku sampai di sini saja,” kataku pada Maggie. “Aku akan memulai untuk pindah ke apartemenku. Itu langkah pertamaku.”
Maggie mengangguk setuju. “Berjuanglah!”
Aku balas mengangguk, lalu berbalik.
            “Hey, Mike?” panggil Maggie.
Aku menoleh. Maggie tersenyum padaku, dengan gambaran rambutnya yang tertiup angin, sinar matahari petang menyinari kulitnya yang pucat, ia tampak sangat cantik.
            “Terima kasih untuk hari ini. Aku sangat menikmatinya,” ujarnya lembut, lalu berbalik menuju lobby.
Saat itu aku merasakan getaran. Jantungku berdebar cepat menatap figure perempuan yang menjauh di depanku.
Aku jatuh cinta.
Dan setelah itu aku menjadi pengunjung tetap Maggie.

When Love Actually is You ch. 6


Dokter Bobbie Carson bukan orang yang mudah untuk diajak bicara. Ia memang peduli pada kesehatan Maggie, dan menurutnya membawanya jalan-jalan keluar bukanlah ide yang bagus. Aku berusaha meyakinkannya bahwa kami tak akan pergi jauh-jauh dari rumah sakit. Tetapi paling tidak Maggie bisa keluar dan menikmati waktunya di luar rumah sakit.
            “Baiklah,” kata Dokter paruh baya itu akhirnya. “Tapi kalian harus sudah kembali saat senja. Maggie tidak boleh melewatkan  sesi pengobatannya.”
Aku senang bukan main. “Tentu! Aku tak akan terlambat! Terima kasih, Dokter!”
            Maggie tak percaya Dokter Carson membiarkannya pergi.
            “Ya, kau boleh pergi. Pria ini berjanji akan menjagamu. Jadi kupikir, sesekali membiarkanmu pergi juga tidak apa-apa,” kata Bobbie tersenyum.
Sandra senang sekali. Dengan cepat, ia membawa Maggie masuk ke kamarnya, menyuruh kami  menunggu di lobby resepsionis.  Jadi kami berdua menunggu, aku dengan sedikit gelisah karena entah apa yang Sandra lakukan pada Maggie, memakan waktu cukup lama. Setelah itu lift berbunyi, keluarlah Maggie dari sana. Aku yakin bukan hanya aku—tapi semua orang yang ada di sana terpana melihatnya berjalan menuju ke arahku. Ia tampak sangat cantik dengan balutan dress musim panas motif bunga-bunga cerah dengan dominasi warna pink, ditutupi cardigan merah. Sandal bertali membuat kakinya menawan, dan yang tak kalah indahnya, rambut cokelatnya terurai dibalik bandana putih. Maggie tampak memukau.
            “Maaf, Sandra menyuruhku berdandan,” ucapnya canggung. “Dia yang membelikanku semua ini.”
Aku merasa harus berterima kasih pada Sandra. Wanita itu berdiri di belakang Maggie dengan puas, karena itik buruk rupanya telah berubah menjadi angsa cantik. Aku masih terpana melihat gadis di depanku sampai Sandra berdeham, mengingatkan aku untuk segera pergi.
            “Ehm—ya, saatnya pergi. Dokter, kami pergi dulu,” kataku cepat-cepat.
Bobbie sendiri ternyata takjub melihat pasien gadisnya dengan dandanan yang berbeda. Dengan cepat ia segera mengangguk dan membiarkan kami pergi.
            “Sampai nanti ya,” kata Maggie riang pada Bobbie dan Sandra.
Kami pun keluar rumah sakit. Kami berjalan menyusuri trotoar.
            “Aku tak percaya aku berada di luar sekarang,” gumam Maggie sambil memandang berkeliling.
Bisa kulihat keceriaan dari sinar matanya. Ia mengamati setiap hal yang kami lewati.
            “Nah, kau ingin ke mana?” tanyaku.
            “Mm—aku tidak tahu,” jawabnya bingung. “Tidak bisakah kita jalan-jalan dulu? Aku ingin melihat-lihat.”
Maggie berkata padaku dengan polosnya, sesuatu yang sangat manis, kurasa. Rasanya aku ingin merangkulnya. Ya ampun, apa yang kupikirkan?
Jadi kami menyusuri pertokoan berdua, mengamati setiap hal yang kami lewati. Saat melewati toko bunga, Maggie menyentuhkan jari-jarinya di atas bung-bunga segar, menciumnya, dan terlihat sangat senang.  Aku belum pernah melihat seorang gadis yang bahagia karena hal-hal sederhana semacam itu. Kami hanya berjalan-jalan dan melihat-lihat, namun rasanya sangat menyenangkan. Aku sendiri menikmatinya. Aku terus memperhatikan Maggie yang takjub dengan sekitarnya, keramaian dan apapun yang ia temui. Sampai akhirnya ia menoleh padaku.
            “Ayo kita makan es krim,” ajaknya dengan nada riang.
            “Boleh saja, tapi kupikir kau tidak seharusnya makan yang mengandung banyak lemak kan?”
Maggie terdiam sejenak. “Kau benar. Es krim kan berlemak tinggi.”
Seketika itu juga, wajahnya berubah cemberut. Ia kesal karena tak bisa makan es krim, padahal ia ingin sekali. Ekspresi wajahnya membuatku geli, ingin sekali aku mencubit lembut pipinya.
            “Aku tahu ke mana kita harus pergi.”

Monday, December 20, 2010

When Love Actually is You ch. 5


Hari berikutnya, Senin pagi yang cerah, aku memakai kaus santai dengan kemeja plain dan jeans, lalu bergegas menuju rumah sakit. Sebelum sampai di rumah sakit, aku menyempatkan pergi ke toko bunga, membeli bunga aster warna-warni yang masih segar. Maggie pasti akan menyukainya.
            Aku melewati lobby rumah sakit, bergegas ke kamar Maggie. Ketika aku datang, kamarnya terbuka. Ia sedang menjalani pemeriksaan paginya. Tiga orang suster—termasuk Suster McClain ada di sisinya. Suster McClain menyisir rambut bergelombang Maggie di saat suster lain mengecek keadaannya. Salah satu suster muda yang tak kukenal melihatku, lalu dengan malu-malu memberitahu Suster McClain.
            “Tuan Frost?” Suster McClain menyapaku. Maggie menoleh dan melihatku.
            “Mm—hai,” kataku, lalu masuk.
            “Tak kusangka Anda akan datang. Ada apa?” tanya Suster McClain sambil meletakkan sisir di meja sebelah tempat tidur Maggie.
            “Ng—ini bunga—“
            “Untukku?” sahut Maggie dari balik punggung Suster McClain, tersenyum.
Aku memberikan buket bunga aster padanya, dan ia kelihatan senang sekali.
            “Terima kasih.” Maggie tersenyum padaku, mebuatku balas tersenyum.
            “Biar kuambilkan vas bunganya, ya.” Maggie memberikan buket itu pada Suster McClain, lalu ia dan suster-suster lain keluar, meninggalkan kami berdua. Suasananya sedikit terasa canggung.
            “Suster McClain peduli sekali denganmu,” kataku, membuka pembicaraan.
            “Itu benar. Dia seperti kakak bagiku,” sahut Maggie. “Jadi, apa yang kau lakukan di sini?”
            “Mm—hanya mengunjungimu.” Aku berdiri di sisi tempat tidurnya, namun memberi jarak sehingga aku tidak terlalu dekat dengannya.
            “Kemarin kan kau sudah mengunjungiku,” ucapnya dengan mengangkat sebelah alis.
Aku menggaruk kepala, bingung apa yang harus kuucapkan.
            “Dengar, apa kau bisa keluar dari rumah sakit ini?”
            “Apa?” Maggie terkejut. Nadanya meninggi.
            “Kau bilang ingin makan es krim kan? Kau ingin keluar dan menikmati matahari. Kau bisa melakukannya, Mag,” kataku meyakinkannya. Aku berjalan ke sisi ranjangnya, mendekatkan wajahku ke wajahnya.
            “Aku bisa membawamu pergi,” bisikku.
Maggie memandangku heran, lalu dia tertawa.
            “Kau gila, ya?” katanya sambil menatapku remeh. “Serius, berhentilah bercanda.”
            “Aku tidak bercanda,” desisku kesal, mendekatkan wajahku ke wajahnya.
Sesaat kami saling berpandangan. Bisa kurasakan hembusan napasnya di wajahku, wangi sabun yang ia pakai, dan wangi rambutnya.
            “Aku tak mungkin bisa keluar, Bodoh,” ucapnya, dengan cepat memalingkan wajah.
            “Aku akan bicara dengan doktermu.”
Maggie menoleh, menatapku terbelalak.
            “Kau tidak serius,” gumamnya.
            “Benar, aku akan melakukannya. Siapa doktermu? Aku akan mendatanginya,” kataku menantang.
            “Tunggu—tunggu. Kau—kenapa kau mau melakukannya?” tanya Maggie akhirnya, merasa kesal dengan apa yang kulakukan.
            “Karena kau bilang ingin keluar,” jawabku enteng.
            “Maksudku—“ nada suara Maggie meninggi—“kenapa kau mau melakukan ini semua? Aku tidak memintamu melakukannya.”
Aku menghela napas. “Karena aku memang ingin melakukannya. Anggap saja ini balas budiku. Kau menyelamatkanku saat itu. Jadi sekarang, aku akan membantumu melakukan apa yang kau inginkan.”
Maggie terdiam. “Aku tidak melakukan apapun untukmu.”
            “Tidak—kau menolongku. Ucapanmu saat itu, membuatku berpikir ulang untuk bunuh diri. Aku sadar bahwa hidupku tidak ada apa-apanya jika dibandingkan denganmu yang selama ini menderita karena sakit. Sekarang aku sadar bahwa aku ingin bisa melakukan sesuatu yang berguna—dan kupikir mewujudkan impianmu adalah salah satunya.”
Gadis mungil itu menatapku tak percaya.
            “Maggie, aku ingin berubah. Aku ingin menjadi manusia yang berguna. Mungkin kau menganggap aku gila atau bodoh, terserah kau saja. Tapi satu hal yang kutahu pasti, aku ingin menolongmu. Dan itu akan aku lakukan,” ujarku.
Maggie terhenyak di tempat tidurnya, tanpa berkata apa-apa. Apa yang kukatakan berlebihan?
Gadis itu menghela napas panjang, lalu memandangku. “Kau harus mengatakan semua itu pada Dokter Carson.”