Tuesday, December 21, 2010

When Love Actually is You ch. 7


Red mango tak jauh dari rumah sakit, jadi aku mengajak Maggie ke sana. Frozen yoghurt menjadi hit belakangan ini, banyak orang—terutama remaja menyukainya.
Aku menyuruh Maggie duduk di salah satu tempat, lalu memesan dua frozen yoghurt.
            “Yoghurt dingin dengan topping buah jauh lebih menyehatkan daripada es krim,” kataku sambil mengulurkan frozen yoghurt dengan topping strawberry, choco chips, dan peach untuk Maggie.
Aku duduk di hadapannya, dengan frozen yoghurt ber-topping anggur, leci, sereal dan almond.
            “Rasanya memang sedikit asam, tapi enak.”
Maggie mengambil sendok lalu mencicipinya. Wajahnya menjadi lucu saat merasakan asamnya.
            “Asam! Tapi segar sekali,” katanya, sambil menyuap kembali yoghurt-nya.
Senang sekali melihatnya menikmati yoghurt-nya, aku pun memakan milikku.
            “Mike, kenapa kau begitu baik padaku?” celetuk Maggie disela ia memakan frozen yoghurt-nya.
            “Mm—jujur saja, aku tidak tahu,” jawabku enteng.
            “Apa?”
Aku menarik napas panjang sambil berpikir.
            “Yah, seperti yang sudah kubilang, anggap saja ini balas budiku karena kau telah mencegahku bertindak bodoh?”
Maggie tertawa kecil. “Sungguh, aku tak bermaksud mencegahmu saat itu”
            “Oh ya?” Aku terkejut mendengar pernyataan Maggie.
Ia mengangguk. “Aku hanya bilang supaya kau bisa lebih menghargai nyawamu. Tidak banyak orang yang bersyukur atas hidupnya dan itu membuatku kesal. Orang sehat dan mampu sepertimu seharusnya melakukan yang terbaik untuk hidup.”
Aku terdiam.
Maggie berkata apa adanya. Mengingat ia sakit sejak kecil dan harus selalu berobat, ia sudah menderita cukup lama.
Aku menyuap yoghurt-ku lemah.
            “Aku ini, selama ini tak pernah dianggap sukses oleh orangtuaku sendiri. Aku ingin melakukan banyak hal sesuai yang aku inginkan, namun orangtuaku selalu saja menginginkan yang lain. Aku ingin menjadi teknisi, menciptakan sesuatu untuk masa depan, bukannya berpesta pora di kalangan jetset seperti mereka,” kataku pelan.
Maggie memperhatikan aku yang sedang mengaduk-aduk  frozen yoghurt-ku.
            “Kau—maupun semua orang juga tahu kalau keluargaku berasal dari kalangan sosialita. Mereka ingin aku juga menjadi seperti mereka. Hanya saja, aku merasa tidak cocok. Aku tak suka berada dalam keramaian, harus berbincang-bincang mengenai hal-hal yang tak kusukai—itu sama sekali bukan gayaku. Sebenarnya sudah lama aku punya apartemen pribadi, tetapi sampai sekarang belum juga kutinggali karena ibuku selalu memintaku tinggal di rumah.”
            “Kalau begitu kenapa tidak kau buktikan saja pada mereka?”
Aku menoleh, menatap gadis mungil ini heran.
            “Buktikan pada mereka, kau bisa melakukan hal yang kau mau. Aku tidak memintamu untuk melawan mereka. Lakukan apa yang bisa kau lakukan, dan saat orang lain mengakui kemampuanmu, aku rasa mereka akan tahu kau yang sebenarnya,” kata Maggie.
Kata-kata Maggie ada benarnya. Aku memang sudah lama ingin melakukannya, tapi karena tak ada seorang pun yang mendukungku, aku kurang keberanian untuk melakukannya. Sekarang Maggie mendukungku, membuat tekadku semakin kuat.
            “Kau pasti bisa, Mike.”
Maggie tersenyum padaku, lalu melanjutkan menghabiskan yoghurt-nya—yang omong-omong, milikku sudah hamper mencair semua.
Kami berjalan keluar dari Red Mango lalu berjalan-jalan melewati taman.
Maggie menikmati setiap saat kami berjalan-jalan, aku memperhatikannya setiap detik. Aku sadar bahwa gadis ini memang berbeda. Meski ia sakit dan tak tahu apakah bisa sembuh, namun Maggie selalu bersemangat dan ceria. Bagaikan matahari yang bersinar cerah hari ini.
Kami berkeliling sampai lupa waktu bahwa sekarang hamper petang. Maggie yang tahu bahwa ia harus kembali ke rumah sakit pun, berjalan pulang dengan ceria.
Aku mengantarnya sampai ke depan lobby, di mana Dokter Carson dan Sandra telah menunggunya. Mereka tersenyum saat Maggie melambai. Aku telah menepati janjiku.
            “Baiklah, aku sampai di sini saja,” kataku pada Maggie. “Aku akan memulai untuk pindah ke apartemenku. Itu langkah pertamaku.”
Maggie mengangguk setuju. “Berjuanglah!”
Aku balas mengangguk, lalu berbalik.
            “Hey, Mike?” panggil Maggie.
Aku menoleh. Maggie tersenyum padaku, dengan gambaran rambutnya yang tertiup angin, sinar matahari petang menyinari kulitnya yang pucat, ia tampak sangat cantik.
            “Terima kasih untuk hari ini. Aku sangat menikmatinya,” ujarnya lembut, lalu berbalik menuju lobby.
Saat itu aku merasakan getaran. Jantungku berdebar cepat menatap figure perempuan yang menjauh di depanku.
Aku jatuh cinta.
Dan setelah itu aku menjadi pengunjung tetap Maggie.

No comments:

Post a Comment