Dokter Bobbie Carson bukan orang yang mudah untuk diajak bicara. Ia memang peduli pada kesehatan Maggie, dan menurutnya membawanya jalan-jalan keluar bukanlah ide yang bagus. Aku berusaha meyakinkannya bahwa kami tak akan pergi jauh-jauh dari rumah sakit. Tetapi paling tidak Maggie bisa keluar dan menikmati waktunya di luar rumah sakit.
“Baiklah,” kata Dokter paruh baya itu akhirnya. “Tapi kalian harus sudah kembali saat senja. Maggie tidak boleh melewatkan sesi pengobatannya.”
Aku senang bukan main. “Tentu! Aku tak akan terlambat! Terima kasih, Dokter!”
Maggie tak percaya Dokter Carson membiarkannya pergi.
“Ya, kau boleh pergi. Pria ini berjanji akan menjagamu. Jadi kupikir, sesekali membiarkanmu pergi juga tidak apa-apa,” kata Bobbie tersenyum.
Sandra senang sekali. Dengan cepat, ia membawa Maggie masuk ke kamarnya, menyuruh kami menunggu di lobby resepsionis. Jadi kami berdua menunggu, aku dengan sedikit gelisah karena entah apa yang Sandra lakukan pada Maggie, memakan waktu cukup lama. Setelah itu lift berbunyi, keluarlah Maggie dari sana. Aku yakin bukan hanya aku—tapi semua orang yang ada di sana terpana melihatnya berjalan menuju ke arahku. Ia tampak sangat cantik dengan balutan dress musim panas motif bunga-bunga cerah dengan dominasi warna pink, ditutupi cardigan merah. Sandal bertali membuat kakinya menawan, dan yang tak kalah indahnya, rambut cokelatnya terurai dibalik bandana putih. Maggie tampak memukau.
“Maaf, Sandra menyuruhku berdandan,” ucapnya canggung. “Dia yang membelikanku semua ini.”
Aku merasa harus berterima kasih pada Sandra. Wanita itu berdiri di belakang Maggie dengan puas, karena itik buruk rupanya telah berubah menjadi angsa cantik. Aku masih terpana melihat gadis di depanku sampai Sandra berdeham, mengingatkan aku untuk segera pergi.
“Ehm—ya, saatnya pergi. Dokter, kami pergi dulu,” kataku cepat-cepat.
Bobbie sendiri ternyata takjub melihat pasien gadisnya dengan dandanan yang berbeda. Dengan cepat ia segera mengangguk dan membiarkan kami pergi.
“Sampai nanti ya,” kata Maggie riang pada Bobbie dan Sandra.
Kami pun keluar rumah sakit. Kami berjalan menyusuri trotoar.
“Aku tak percaya aku berada di luar sekarang,” gumam Maggie sambil memandang berkeliling.
Bisa kulihat keceriaan dari sinar matanya. Ia mengamati setiap hal yang kami lewati.
“Nah, kau ingin ke mana?” tanyaku.
“Mm—aku tidak tahu,” jawabnya bingung. “Tidak bisakah kita jalan-jalan dulu? Aku ingin melihat-lihat.”
Maggie berkata padaku dengan polosnya, sesuatu yang sangat manis, kurasa. Rasanya aku ingin merangkulnya. Ya ampun, apa yang kupikirkan?
Jadi kami menyusuri pertokoan berdua, mengamati setiap hal yang kami lewati. Saat melewati toko bunga, Maggie menyentuhkan jari-jarinya di atas bung-bunga segar, menciumnya, dan terlihat sangat senang. Aku belum pernah melihat seorang gadis yang bahagia karena hal-hal sederhana semacam itu. Kami hanya berjalan-jalan dan melihat-lihat, namun rasanya sangat menyenangkan. Aku sendiri menikmatinya. Aku terus memperhatikan Maggie yang takjub dengan sekitarnya, keramaian dan apapun yang ia temui. Sampai akhirnya ia menoleh padaku.
“Ayo kita makan es krim,” ajaknya dengan nada riang.
“Boleh saja, tapi kupikir kau tidak seharusnya makan yang mengandung banyak lemak kan?”
Maggie terdiam sejenak. “Kau benar. Es krim kan berlemak tinggi.”
Seketika itu juga, wajahnya berubah cemberut. Ia kesal karena tak bisa makan es krim, padahal ia ingin sekali. Ekspresi wajahnya membuatku geli, ingin sekali aku mencubit lembut pipinya.
“Aku tahu ke mana kita harus pergi.”
No comments:
Post a Comment