Monday, December 20, 2010

When Love Actually is You ch. 5


Hari berikutnya, Senin pagi yang cerah, aku memakai kaus santai dengan kemeja plain dan jeans, lalu bergegas menuju rumah sakit. Sebelum sampai di rumah sakit, aku menyempatkan pergi ke toko bunga, membeli bunga aster warna-warni yang masih segar. Maggie pasti akan menyukainya.
            Aku melewati lobby rumah sakit, bergegas ke kamar Maggie. Ketika aku datang, kamarnya terbuka. Ia sedang menjalani pemeriksaan paginya. Tiga orang suster—termasuk Suster McClain ada di sisinya. Suster McClain menyisir rambut bergelombang Maggie di saat suster lain mengecek keadaannya. Salah satu suster muda yang tak kukenal melihatku, lalu dengan malu-malu memberitahu Suster McClain.
            “Tuan Frost?” Suster McClain menyapaku. Maggie menoleh dan melihatku.
            “Mm—hai,” kataku, lalu masuk.
            “Tak kusangka Anda akan datang. Ada apa?” tanya Suster McClain sambil meletakkan sisir di meja sebelah tempat tidur Maggie.
            “Ng—ini bunga—“
            “Untukku?” sahut Maggie dari balik punggung Suster McClain, tersenyum.
Aku memberikan buket bunga aster padanya, dan ia kelihatan senang sekali.
            “Terima kasih.” Maggie tersenyum padaku, mebuatku balas tersenyum.
            “Biar kuambilkan vas bunganya, ya.” Maggie memberikan buket itu pada Suster McClain, lalu ia dan suster-suster lain keluar, meninggalkan kami berdua. Suasananya sedikit terasa canggung.
            “Suster McClain peduli sekali denganmu,” kataku, membuka pembicaraan.
            “Itu benar. Dia seperti kakak bagiku,” sahut Maggie. “Jadi, apa yang kau lakukan di sini?”
            “Mm—hanya mengunjungimu.” Aku berdiri di sisi tempat tidurnya, namun memberi jarak sehingga aku tidak terlalu dekat dengannya.
            “Kemarin kan kau sudah mengunjungiku,” ucapnya dengan mengangkat sebelah alis.
Aku menggaruk kepala, bingung apa yang harus kuucapkan.
            “Dengar, apa kau bisa keluar dari rumah sakit ini?”
            “Apa?” Maggie terkejut. Nadanya meninggi.
            “Kau bilang ingin makan es krim kan? Kau ingin keluar dan menikmati matahari. Kau bisa melakukannya, Mag,” kataku meyakinkannya. Aku berjalan ke sisi ranjangnya, mendekatkan wajahku ke wajahnya.
            “Aku bisa membawamu pergi,” bisikku.
Maggie memandangku heran, lalu dia tertawa.
            “Kau gila, ya?” katanya sambil menatapku remeh. “Serius, berhentilah bercanda.”
            “Aku tidak bercanda,” desisku kesal, mendekatkan wajahku ke wajahnya.
Sesaat kami saling berpandangan. Bisa kurasakan hembusan napasnya di wajahku, wangi sabun yang ia pakai, dan wangi rambutnya.
            “Aku tak mungkin bisa keluar, Bodoh,” ucapnya, dengan cepat memalingkan wajah.
            “Aku akan bicara dengan doktermu.”
Maggie menoleh, menatapku terbelalak.
            “Kau tidak serius,” gumamnya.
            “Benar, aku akan melakukannya. Siapa doktermu? Aku akan mendatanginya,” kataku menantang.
            “Tunggu—tunggu. Kau—kenapa kau mau melakukannya?” tanya Maggie akhirnya, merasa kesal dengan apa yang kulakukan.
            “Karena kau bilang ingin keluar,” jawabku enteng.
            “Maksudku—“ nada suara Maggie meninggi—“kenapa kau mau melakukan ini semua? Aku tidak memintamu melakukannya.”
Aku menghela napas. “Karena aku memang ingin melakukannya. Anggap saja ini balas budiku. Kau menyelamatkanku saat itu. Jadi sekarang, aku akan membantumu melakukan apa yang kau inginkan.”
Maggie terdiam. “Aku tidak melakukan apapun untukmu.”
            “Tidak—kau menolongku. Ucapanmu saat itu, membuatku berpikir ulang untuk bunuh diri. Aku sadar bahwa hidupku tidak ada apa-apanya jika dibandingkan denganmu yang selama ini menderita karena sakit. Sekarang aku sadar bahwa aku ingin bisa melakukan sesuatu yang berguna—dan kupikir mewujudkan impianmu adalah salah satunya.”
Gadis mungil itu menatapku tak percaya.
            “Maggie, aku ingin berubah. Aku ingin menjadi manusia yang berguna. Mungkin kau menganggap aku gila atau bodoh, terserah kau saja. Tapi satu hal yang kutahu pasti, aku ingin menolongmu. Dan itu akan aku lakukan,” ujarku.
Maggie terhenyak di tempat tidurnya, tanpa berkata apa-apa. Apa yang kukatakan berlebihan?
Gadis itu menghela napas panjang, lalu memandangku. “Kau harus mengatakan semua itu pada Dokter Carson.”

No comments:

Post a Comment