Thursday, January 14, 2010

When Love Actually is You 2nd

Aku memutuskan untuk kembali ke kamarku. Saat aku masuk, Vena Moline, pacarku, telah menungguku.
“Sayang! Kau dari mana saja?” Vena langsung menghambur memelukku.
Vena adalah mimpi buruk bagi semua laki-laki. Ia memang cantik, dengan tubuh ramping dan tinggi, rambut merah tembaga, dengan riasan sempurna, ia akan membuat pria terpana begitu melihatnya. Tapi semua orang tahu ia sangat haus kekuasaan. Ia mendekatiku karena tahu keluargaku berasal dari kalangan atas, dan ia sangat gencar mengambil hati orangtuaku. Aku terpaksa bersamanya karena menurut orangtuaku—bukan aku—ia wanita yang baik. Kalau saja mereka melihatnya saat ia kehabisan stok Versace-nya.
Ayah dan Ibuku muncul dari pintu.
“Berkemaslah, kau tak perlu tinggal di sini,” kata ibuku, lalu berbalik untuk keluar dari kamar.
Ayahku mengangguk padaku. “Kami akan menunggumu di bawah. Halo, Vena.”
Vena tersenyum pada ayahku, lalu kembali memandangku.
“Kau tampak kumal sekali dengan baju rumah sakit itu,” ucapnya sambil memandang bajuku geli. “Segera ganti bajumu, aku akan menemui orangtuamu dulu.”
Ia mencium bibirku sekilas, berlalu meninggalkanku.
Aku mengambil pakaianku yang terlipat di ujung tempat tidur ketika seorang suster mengetuk pintu kamarku.
“Tuan Frost, Anda akan berkemas?” sapa suster muda itu ramah.
“Ehm ya, aku akan berganti pakaian dulu,” gumamku sambil menuju ke kamar mandi.
Suster itu masuk untuk merapikan kamar dan mengambil pakaian rumah sakit yang baru saja kupakai.
Setelah merapikan diri, aku bersama suster itu keluar kamar.
“Selamat tinggal, Tuan Frost,” kata suster itu, berjalan menduluiku.
Entah apa yang merasukiku, aku mengikutinya.
“Err, Suster?”
Suster itu berhenti sejenak, lalu berbalik.
“Apa Anda tahu, soal gadis yang ada di atap?”
“Maaf?”
“Begini, saat aku ke atas, aku bertemu dengan seorang gadis yang—“
“Oh, pasti yang kau maksud itu Maggie?”
Kelihatannya suster itu tahu betul siapa yang kumaksud.
“Maggie?”
Kamipun berjalan berdampingan. Suster itu tersenyum saat aku menyebut ‘Maggie’.
“Apa yang ia lakukan padamu?” tanya Suster muda itu, yg setelah kulihat papan namanya, ia bernama Suster McClain.
“Mm—tidak aku hanya penasaran siapa dia,” jawabku pelan.
“Well, kau akan menemukan dia di mana saja. Suatu saat dia ada di atap, di saat lain ia ada di taman, atau bahkan bagian anak-anak. Dia memang tak bisa diatur,” ujar Suster McClain sambil tertawa.
“Anda mengenalnya?”
Suster McClain memandangku sekilas, lalu menghela napas.
“Semua orang di sini mengenalnya,” katanya pelan.
Aku terdiam, memikirkan maksud kata-kata Suster McClain saat aku tak sadar bahwa ternyata aku telah sampai si lobby, dan orangtuaku—juga Vena—telah menungguku.
“Sampai jumpa, Mike Frost. Jaga dirimu.” Suster McClain meninggalkanku di dekat resepsionis.
Aku hanya perlu melangkah sedikit untuk sampai ke depan pintu utama. Mobil Mercedes Ayah sudah berada di depan lobby, menungguku masuk. Aku keluar, dan membiarkan Vena menggamit lenganku untuk masuk ke mobil.
Pikiranku melayang, memunculkan gambaran Maggie—si gadis atap yang bisa dibilang menyelamatkan hidupku.
“Vena,” kataku, melepaskan tangannya dari lenganku. “Masih ada hal yang ingin kuurus, kau duluan saja.”
Aku bergegas masuk kembali ke rumah sakit.
“Sayang?” pekik Vena heran.
“Mike, kau mau ke mana?” seru Ibu dari dalam mobil.
“Ada yang tertinggal, kalian duluan saja!” dustaku, lalu kembali ke dalam rumah sakit. Aku melihat sekeliling, mencari di mana Maggie berada. Suster McClain bilang ia bisa berada di mana saja, yang berarti, aku harus mencari ke seluruh Madison Hospital ini. Akan sangat melelahkan, tapi aku tak peduli. Aku hanya ingin bertemu dengannya, dan itu akan kulakukan.

When Love Actually is You 1st

Kedua orangtuaku membawaku ke rumah sakit pagi ini, karena mengira aku mengalami gangguan jiwa. Padahal saat dokter memeriksaku, aku sangat sehat—bahkan sangat normal. Orangtuaku berkata pada dokter bahwa aku mengalami depresi, karena mengurung diri hampir semalaman tanpa keluar sekalipun, mengira aku akan bunuh diri atau melakukan tindakan asusila.

Mungkin itu benar.

Aku memang membutuhkan waktu menyendiri, karena alasan pribadi. Ayah dan Ibuku—Danny dan Martha Frost—adalah sepasang sosialita, yang setiap hari selallu sibuk dengan pesta di manapun. Ayahku seorang pencicip anggur terkemuka, dan ibuku, semacam party organizer. Mereka bilang aku akan meneruskan jejak ayahku—yang sama sekali tidak kuinginkan. Aku memang sudah 24 tahun, baru saja menyelesaikan gelar sarjanaku, tapi aku tidak ingin hidup dengan kemewahan kalangan jetset.

Yang aku inginkan adalah bekerja sesuai kemampuanku, di sebuah perusahaan mobil terkemuka. Aku suka membuat rancangan mobil baru, dan aku akan memulai semuanya dari usahaku sendiri, bukannya dengan bantuan orangtuaku.

Namun mereka tak mau mengeti. Ayah tidak membiarkanku melamar pekerjaan di manapun, karena baginya melanjutkan jejaknya menjadi pencicip anggur lebih penting. Ia lebih setuju jika aku menjadi sepertinya, dengan begitu aku tidak perlu kesulitan dalam mencari pekerjaan.

Tapi bagaimana mungkin aku bisa melakukan hal yang sama sekali tak kusukai?

Jadi yang kulakukan sekarang adalah berjalan ke tangga darurat menuju atap rumah sakit, di mana aku bisa saja melompat dan mengakhiri semuanya.

Di sinilah aku, berdiri di lantai teratas, mendekati jeruji besi setinggi pinggangku, menatap ke bawah—yang sedikit memusingkan karena tinggi gedung itu 20 lantai. Aku menghela napas dalam-dalam sambil mencengkeram pagar besi di depanku.

“Kalau aku jadi kau, aku tak akan melakukannya.”

Suara itu mengejutkanku, aku segera berbalik.

Seorang gadis memandangku jahil, sambil terkekeh.

“Kaget melihatku? Sejak tadi aku ada di sini,” ucapnya sambil tertawa pelan.

Aku sedikit terkejut melihat gadis itu, karena ia tampak sangat cantik. Rambutnya panjang bergelombang dengan warna chesnut, kulitnya putih pucat dengan rona merah muda di pipi. Tubuhnya yang kecil tertutup mantel tebal.

“Kau baru ya? Aku belum pernah melihatmu sebelumnya.”

Gadis itu berjalan mendekatiku, lalu berdiri di sampingku. Ia melongok ke bawah, lalu bergidik.

“Kalau kau jatuh dari ketinggian seperti ini, kau pasti akan langsung hancur,” katanya sambil menatapku dengan matanya yang besar dan berwarna hijau.

Kalau para laki-laki—aku—memandangnya sedekat ini, pasti akan langsung jatuh hati.

“Paling tidak aku bisa bersaksi kalau kau memang ingin melompat,” Gadis itu masih melanjutkan.

“Jadi, apakah ada alasan kau mau melompat dari sini?”

Gadis itu bertanya padaku dengan tenangnya, membuatku gugup untuk menjawab.

Lalu sesuatu yang ajaib terjadi—dia tersenyum.

“Baiklah, tak perlu memberitahuku. Tapi kalau kau mendengar saran dariku, jangan melompat sekarang,” kata gadis itu berbalik, bersandar ke pagar besi.

“Apa maksudmu?” tanyaku bingung dengan pernyataannya.

“Terkadang orang melakukan bunuh diri untuk alasan yang tidak logis. Patah hati, tidak kuat karena tak punya uang, dan lain sebagainya. Padahal kalau mereka mau berpikir dengan jernih, mereka bisa menemukan jalan keluar untuk masalahnya. Kurasa alasanmu untuk melompat dari sini tidak jauh dari perkiraanku kan?”

Aku terdiam. Kata-kata gadis ini ada benarnya. Alasanku untuk melompat memang seperti alasan yang tidak logis, karena aku terlalu cepat menyerah pada hidupku.

“Kalau alasanmu memang begitu,” gadis itu kembali melongok ke bawah, lalu memandangku. “Hidupmu tidak pantas untuk itu. Coba pikirkan kembali. Setelah kau kembali menata hidupmu tetapi kau merasa hidup begitu kejam karena kau terserang penyakit mematikan dan hidupmu tak akan lama lagi, baru kau berpikir lagi untuk melompat dari sini.”

Gadis itu berjalan meninggalkanku.

“Tunggu—siapa kau?” tanyaku segera—paling tidak aku tahu namanya.

Gadis itu menoleh, menatapku dengan mata hijau emeraldnya.

Ia tersenyum, lalu berkata, “Salah satu pasien di sini.”

Ia kembali berbalik, rambut bergelombangnya tertiup angin.

“Semoga berhasil untuk hidupmu ya,” katanya tanpa berbalik, hanya melambaikan tangan.Aku menatap gadis itu sampai ia keluar melalui pintu darurat. Bertanya dalam hati siapa dia sebenarnya.

Sunday, January 10, 2010

my first blog

atas saran dari banyak orang, maka saya putuskan untuk menulis dalam sebuah blog.....
semoga bermanfaat atau pun memberi inspirasi.......