Thursday, January 14, 2010

When Love Actually is You 1st

Kedua orangtuaku membawaku ke rumah sakit pagi ini, karena mengira aku mengalami gangguan jiwa. Padahal saat dokter memeriksaku, aku sangat sehat—bahkan sangat normal. Orangtuaku berkata pada dokter bahwa aku mengalami depresi, karena mengurung diri hampir semalaman tanpa keluar sekalipun, mengira aku akan bunuh diri atau melakukan tindakan asusila.

Mungkin itu benar.

Aku memang membutuhkan waktu menyendiri, karena alasan pribadi. Ayah dan Ibuku—Danny dan Martha Frost—adalah sepasang sosialita, yang setiap hari selallu sibuk dengan pesta di manapun. Ayahku seorang pencicip anggur terkemuka, dan ibuku, semacam party organizer. Mereka bilang aku akan meneruskan jejak ayahku—yang sama sekali tidak kuinginkan. Aku memang sudah 24 tahun, baru saja menyelesaikan gelar sarjanaku, tapi aku tidak ingin hidup dengan kemewahan kalangan jetset.

Yang aku inginkan adalah bekerja sesuai kemampuanku, di sebuah perusahaan mobil terkemuka. Aku suka membuat rancangan mobil baru, dan aku akan memulai semuanya dari usahaku sendiri, bukannya dengan bantuan orangtuaku.

Namun mereka tak mau mengeti. Ayah tidak membiarkanku melamar pekerjaan di manapun, karena baginya melanjutkan jejaknya menjadi pencicip anggur lebih penting. Ia lebih setuju jika aku menjadi sepertinya, dengan begitu aku tidak perlu kesulitan dalam mencari pekerjaan.

Tapi bagaimana mungkin aku bisa melakukan hal yang sama sekali tak kusukai?

Jadi yang kulakukan sekarang adalah berjalan ke tangga darurat menuju atap rumah sakit, di mana aku bisa saja melompat dan mengakhiri semuanya.

Di sinilah aku, berdiri di lantai teratas, mendekati jeruji besi setinggi pinggangku, menatap ke bawah—yang sedikit memusingkan karena tinggi gedung itu 20 lantai. Aku menghela napas dalam-dalam sambil mencengkeram pagar besi di depanku.

“Kalau aku jadi kau, aku tak akan melakukannya.”

Suara itu mengejutkanku, aku segera berbalik.

Seorang gadis memandangku jahil, sambil terkekeh.

“Kaget melihatku? Sejak tadi aku ada di sini,” ucapnya sambil tertawa pelan.

Aku sedikit terkejut melihat gadis itu, karena ia tampak sangat cantik. Rambutnya panjang bergelombang dengan warna chesnut, kulitnya putih pucat dengan rona merah muda di pipi. Tubuhnya yang kecil tertutup mantel tebal.

“Kau baru ya? Aku belum pernah melihatmu sebelumnya.”

Gadis itu berjalan mendekatiku, lalu berdiri di sampingku. Ia melongok ke bawah, lalu bergidik.

“Kalau kau jatuh dari ketinggian seperti ini, kau pasti akan langsung hancur,” katanya sambil menatapku dengan matanya yang besar dan berwarna hijau.

Kalau para laki-laki—aku—memandangnya sedekat ini, pasti akan langsung jatuh hati.

“Paling tidak aku bisa bersaksi kalau kau memang ingin melompat,” Gadis itu masih melanjutkan.

“Jadi, apakah ada alasan kau mau melompat dari sini?”

Gadis itu bertanya padaku dengan tenangnya, membuatku gugup untuk menjawab.

Lalu sesuatu yang ajaib terjadi—dia tersenyum.

“Baiklah, tak perlu memberitahuku. Tapi kalau kau mendengar saran dariku, jangan melompat sekarang,” kata gadis itu berbalik, bersandar ke pagar besi.

“Apa maksudmu?” tanyaku bingung dengan pernyataannya.

“Terkadang orang melakukan bunuh diri untuk alasan yang tidak logis. Patah hati, tidak kuat karena tak punya uang, dan lain sebagainya. Padahal kalau mereka mau berpikir dengan jernih, mereka bisa menemukan jalan keluar untuk masalahnya. Kurasa alasanmu untuk melompat dari sini tidak jauh dari perkiraanku kan?”

Aku terdiam. Kata-kata gadis ini ada benarnya. Alasanku untuk melompat memang seperti alasan yang tidak logis, karena aku terlalu cepat menyerah pada hidupku.

“Kalau alasanmu memang begitu,” gadis itu kembali melongok ke bawah, lalu memandangku. “Hidupmu tidak pantas untuk itu. Coba pikirkan kembali. Setelah kau kembali menata hidupmu tetapi kau merasa hidup begitu kejam karena kau terserang penyakit mematikan dan hidupmu tak akan lama lagi, baru kau berpikir lagi untuk melompat dari sini.”

Gadis itu berjalan meninggalkanku.

“Tunggu—siapa kau?” tanyaku segera—paling tidak aku tahu namanya.

Gadis itu menoleh, menatapku dengan mata hijau emeraldnya.

Ia tersenyum, lalu berkata, “Salah satu pasien di sini.”

Ia kembali berbalik, rambut bergelombangnya tertiup angin.

“Semoga berhasil untuk hidupmu ya,” katanya tanpa berbalik, hanya melambaikan tangan.Aku menatap gadis itu sampai ia keluar melalui pintu darurat. Bertanya dalam hati siapa dia sebenarnya.

1 comment:

  1. huaa tizaa :)
    bagus crita nya..
    smangat trus bwt nulis yahh..
    hany bkal slalu jd pembaca stia XD

    ReplyDelete