Kuambil ponselnya, lalu aku menulis sesuatu.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Maggie heran.
Aku menulis dengan cepat, lalu menyerahkan ponsel itu padanya.
“Mulai sekarang, jika kau butuh seseorang, hubungi saja aku. Aku akan menjadi teman ngobrol—atau apapun.”
Aku menunjukkan nomor ponselku yang sudah kusimpan di memori ponselnya. Ia menatapku heran, namun aku tak peduli. Lalu gadis itu terkekeh.
“Tidak perlu seserius itu, aku akan baik-baik saja,” katanya. “Selama ini juga begitu.”
Yang ia katakan ada benarnya. Sebelum bertemu denganku, ia tak pernah menghubungi siapapun karena suster akan ada bersamanya di rumah sakit.
“Hey, bukankah seharusnya kau pulang?” tanya Maggie sambil naik ke tempat tidurnya.
Ya Tuhan, aku lupa kalau aku baru saja lari dari mobil saat seharusnya aku pulang. Aku kehilangan kendali karena ingin bertemu Maggie.
Gadis ini sangat unik—membuatku tertarik dan ingin mengenalnya lebih jauh. Cinta pada pandangan pertama? Entahlah.
Jadi aku mengatakan padanya bahwa aku harus pulang, sementara ia bersiap untuk pengobatannya. Aku berjalan keluar kamar dengan malas, mengingat aku harus kembali ke rumah, ke keluarga yang sama sekali tak menyenangkan. Belum lagi Vena—yang pastinya sudah berada di rumahku, menungguku dengan kesal.
Malam hari, setelah semua ocehan Vena berakhir dan dia kembali ke rumahnya dengan bersungut-sungut karena aku tidak menciumnya, juga menemaninya seharian ini, aku mendapati diriku menyalakan shower dengan volume besar dan dingin. Aku perlu mendinginkan kepalaku. Vena membuatku gila. Aku tidak tahu kenapa wanita seperti dia ada di Bumi ini, dengan segala kemewahan yang ia inginkan. Ia bahkan bisa mendapatkan pria manapun yang ia mau, tapi tak mau melepaskanku. Aku memang pernah menyukainya, tetapi jauh sebelum ia mengincar status sosial seperti orangtuaku. Yang Vena mau hanya yang terbaik, mulai dari pakaian sampai apa yang ia makan. Dan kuakui itu cukup membuatku kesulitan menghadapinya.
Di lain pihak, aku tak bisa begitu saja meninggalkannya. Ayah dan Ibu menyukainya, menganggapnya sebagai wanita berselera tinggi. Itu hanya karena mereka belum tahu dia yang sebenarnya. Vena sangat pandai mengambil hati orangtuaku, yang sudah menganggapnya seperti menantu sendiri—yang jelas tak ingin kuanggap begitu. Aku harus berhenti memikirkan soal ini.
Jam menunjukkan pukul 00.30 ketika aku selesai mandi. Aku memakai celana trainingku—tanpa memakai kaos atasannya, lalu merebahkan diri ke ranjangku. Kuhirup aroma seprai yag segar dalam-dalam dan segera memejamkan mata. Aku berharap segera tertidur, namun bunyi nada SMS muncul dari iPhone-ku. Aku menggeram, karena kukira pesan itu dari Vena, mengucapkan kata-kata selamat malam dengan banyak ciuman di dalamnya. Kubuka dengan malas, lalu berniat menghapusnya saat kulihat ternyata pengirimnya bukan Vena.
Nomor tak dikenal.
Hey, maaf kalo aku mengganggu malam-malam begini. Ini Maggie. Kau sudah tidur?
Aku tersentak, nyaris menjerit. Maggie mengirimiku pesan!
Dengan cepat, kusimpan nomornya dan membalas.
Belum. Kenapa?
Aku senang sekali ia mengirim pesan padaku, seolah membutuhkan aku atau sebagainya, hatiku bersorak tak karuan.
Ponselku berbunyi, kali ini nada telepon. Mags menelponku!
“Halo—“
“Hei.”
Suara yang terdengar malas namun ingin menelpon itu terdengar samar di telingaku.
“Aku tidak bermaksud mengganggumu selarut ini,” ucapnya pelan.
“Tidak—mengganggu,” selaku cepat.
Malam itu Maggie tak bisa tidur, karena obatnya baru bekerja pada malam hari, ia mengantuk tapi tak bisa tidur. Saat kubilang bahwa dia bisa menghubungiku kapanpun, ia sangat menghargainya, karena tak pernah ada yang bisa ia hubungi di saat seperti ini. Kami mengobrol ringan, mulai dari keinginannya untuk makan es krim di Baskin Robbins atau jalan-jalan di taman kosmos di tengah kota sambil menikmati cahaya matahari. Ia berbicara dengan nada riang. Keinginannya hanya hal-hal yang sederhana seperti itu, tak seperti gadis lain yang mungkin lebih menginginkan Hermes atau Victoria Secret. Mendengarnya membuatku merasa miris, karena Maggie tak pernah melakukan hal-hal kecil itu sebelumnya. Penyakitnya membuatnya tinggal tak jauh dari rumah sakit dan obat-obatan. Tanpa semua itu, hidupnya di ujung tanduk. Seandainya saja aku bisa melakukan sesuatu.
Hey, mungkin aku memang bisa melakukan sesuatu.
No comments:
Post a Comment